Suasana Khidmat Salat Idulfitri 1447 H di Masjid Raya Islamic Center Surabaya

JATIMAREA.COM – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Raya Islamic Center Jawa Timur, Jalan Raya Dukuh Kupang, Surabaya, pada Sabtu (21/3/2026). Ribuan jemaah dari Surabaya dan wilayah sekitarnya tampak memadati area masjid hingga ke selasar untuk menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah.

Menjadi Pribadi yang Bijaksana Pasca-Ramadan
Bertindak sebagai khatib, Imam Besar Masjid Sunan Ampel Surabaya, KH A Zul Hilmi, menyampaikan pesan mendalam bertema “Ketaqwaan dan Menjaga Lisan”. Ia menekankan bahwa esensi ibadah puasa Ramadan sejatinya adalah membentuk pribadi yang lebih bijaksana dan mampu mengendalikan diri.

Menurut KH Zul Hilmi, keberhasilan puasa seseorang tercermin dari kemampuannya mengontrol ucapan.

“Pasca-Ramadan, hati seorang mukmin seharusnya menjadi pengendali utama setiap tindakan, termasuk dalam mengontrol lisan,” ujarnya di hadapan ribuan jemaah yang menyimak dengan saksama.

Bahaya Lisan dalam Pandangan Imam Al-Ghazali
Dalam khutbahnya, KH Zul Hilmi mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali untuk mengingatkan jemaah akan bahaya lisan yang tidak terkendali. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang dapat merusak pahala ibadah dan tatanan sosial:

1. Dusta (Kebohongan): Dinilai sebagai dosa besar yang merusak kepercayaan antarmanusia.

2. Ghibah (Menggunjing): Menyebut keburukan orang lain meski hal tersebut benar. Beliau merujuk pada Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang keras perbuatan ini.

3. Namimah (Adu Domba): Tindakan pemicu konflik yang merusak persatuan dan hubungan sosial.

4. Janji Palsu: Mengingatkan bahwa mengingkari janji adalah salah satu tanda kemunafikan. “Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati,” tegasnya.

Lisan sebagai Cerminan Iman
KH Zul Hilmi juga mengingatkan pentingnya berbicara berdasarkan ilmu. Ucapan tanpa dasar pengetahuan hanya akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain.

READ  Jelang Idulfitri, BI Dorong Kredit Pangan untuk Tekan Risiko Inflasi

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh jemaah menjadikan momentum Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki akhlak secara berkelanjutan. Menjaga lisan, menurutnya, bukan sekadar etika sosial, melainkan bentuk pertanggungjawaban besar di hadapan Allah SWT dan cerminan nyata dari keimanan seseorang (XWY)