Muktamar NU ke-35 Tetapkan 9 Anggota AHWA, Selisih Suara KH Nurul Huda dan Waled Nu Hanya 8

JATIMAREA.COM – Rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Jombang resmi menetapkan sembilan kiai sepuh sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Penetapan tersebut disahkan usai panitia merampungkan proses rekapitulasi perolehan suara dari enam bilik panel pemilihan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi akhir, tercatat sebanyak 4.703 suara terdistribusi kepada 34 nama calon anggota AHWA. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli, sukses menduduki peringkat teratas dengan raihan 485 suara.

Di posisi kedua ditempati oleh ulama asal Aceh, TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu), yang mengantongi 477 suara—hanya berselisih delapan suara dari posisi puncak. Sementara itu, ulama asal Sulawesi Selatan, AG Dr KH Baharuddin HS, MA, berada di urutan ketiga dengan dukungan 392 suara.

Berikut daftar lengkap 9 ulama yang berhasil mengantongi suara terbanyak dan resmi ditetapkan sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU:

1. KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) — 485 suara

2. TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) — 477 suara

3. AG Dr KH Baharuddin HS, MA — 392 suara

4. KH Miftachul Akhyar — 350 suara

5. KH Afifuddin Muhajir — 339 suara

6. KH Anwar Iskandar — 326 suara

7. KH Anwar Manshur (Lirboyo) — 303 suara

8. Prof Dr KH Said Aqil Siroj — 273 suara

9. Dr KH Abun Bunyamin, MA — 268 suara

Penetapan sembilan anggota AHWA ini merupakan salah satu krusialitas utama dalam jalannya Muktamar ke-35 NU. Forum AHWA memiliki peran amat strategis untuk menentukan dan menetapkan sosok Rais Aam PBNU, sekaligus menjadi representasi musyawarah para ulama sepuh dalam merumuskan arah kepemimpinan serta kebijakan jam’iyah ke depan.

READ  Muktamar Ke-35 NU, Gus Ipul: Pemilihan Ketum dan Rangkap Jabatan Akan Dinamis

Keterwakilan kiai-kiai sepuh dari berbagai basis pesantren benteng tradisi—seperti Ploso, Lirboyo, Waled, serta jajaran ulama Nusantara dari Jawa, Sumatra, hingga Sulawesi—menegaskan nilai keutuhan, keilmuan, dan kebhinekaan dalam struktur tertinggi penentu arah perjalanan Nahdlatul Ulama. (XFP)